Kenapa Kita Suka Ngomongin Orang Lain?

Gaya Hidup  
Sumber foto: pexels.com

Saya suka bertanya-tanya. Kenapa orang Indonesia suka ghibah? Ini menurut pandangan saya saja, karena saya sendiri adalah WNI. Jadi boleh dong menilai kultur kebangsaan saya sendiri. Kalau saya menilai kultur bangsa lain, barulah tidak pantas, karena saya bukan warganya.

Jadi, menurut saya yang orang Indonesia ini, sebagian besar (supaya tidak menggeneralisasi) orang Indonesia itu suka ghibah. Bagi kalian yang tidak tahu ghibah, ghibah itu dari bahasa Arab, dan ada dalam literasi keislaman.

Yang artinya, sederhananya, adalah membicarakan orang lain, yang jika orang yang dibicarakannya itu dengar, tidak suka. Sederhananya lagi, ghibah adalah membicarakan kejelekan orang lain alias ngomongin kejelekan orang lain.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kembali ke konteks orang Indonesia yang kerjaannya ngomongin orang melulu. Apalagi kalau sudah ngumpul bareng teman-teman. Pasti ngomongin orang lain, yang dapat dipastikan isi omongannya adalah kejelekan orang yang diomongin.

Terkadang saya suka berpikir, kenapa seperti itu? Setelah dipikir-pikir, bertahun-tahun, akhirnya saya memutuskan bahwa pendapat saya berikut ini adalah kesimpulan yang paling tepat.

Pernah tidak kita berpikir orang Indonesia terlalu banyak memiliki waktu luang? Terlalu santai? Ya, inilah kesimpulan saya. Sebagian besar kita terlalu banyak memiliki waktu luang. Akibatnya, kalau kumpul dengan banyak orang, yang dibicarakan adalah kejelekan orang lain. Entah fisiknya, sifatnya, sikapnya, atau apalah yang jelek-jelek dari orang itu.

Memangnya, apa faedah terbesar dari ghibah? Cicilan rumah jadi lunas? Nilai pelajaran matematika jadi 100? Dosen mengubah nilai E kita jadi A plus? Mertua beri warisan?

Karena begitu banyak waktu luang, kita juga jadi punya waktu menikmati tontonan yang isinya ada orang yang sedang membicarakan kejelekan orang lain. Dan kita tertawa karenanya. Pada akhirnya, kita abai bahwa diri kita juga pantas ditertawakan.

Parahnya, yang suka mengghibah adalah mereka yang secara ekonomi itu ada di bawah. Jauh dari mapan. Sudah begitu, karena terlalu banyak punya waktu luang, mereka suka bertanya-tanya, apa ya kerjaan yang cepat menghasilkan cuan hanya dengan ongkang-ongkang kaki?

Lama-lama, saya berpikir dan menyimpulkan, jangan-jangan kemiskinan di Indonesia sebetulnya bukan karena faktor minimnya lapangan pekerjaan, mahalnya harga sembako, naiknya harga minyak goreng dan BBM, tetapi cuma karena suka ghibah. Di sini sudah jelas, apa kunci dalam memberantas kemiskinan di Indonesia.

Salah seorang konglomerat di Indonesia pernah bilang bahwa hobinya bahkan adalah bekerja. Kalau mau sukses, fokus kerja. Bisa sebagai pengusaha, pegawai, dan sebagainya.

Kurangi ghibah, perbanyak kerja. Anehnya, kalian membaca tulisan yang sedang mengghibahi diri kalian sendiri.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image