Wajib Dipahami! Ini Faktor Penyebab Naik Turunnya Harga Kripto

GENPOP -- Membeli aset kripto berbeda dengan membeli saham atau obligasi. Karena kripto bukan suatu korporasi. Tidak ada neraca perusahaan yang perlu ditinjau, atau kinerja pendanaan untuk dibandingkan.
Di dunia saham, membeli saham berarti kamu memiliki sebuah perusahaan dengan persentase tertentu. Sedangkan membeli bitcoin berarti kamu memiliki aset kripto berdasarkan berapa pun jumlah uang yang digunakan untuk membelinya.
Di saham, sudah ada harga tertentu dari sebuah emiten. Misalnya harga saham per lembar suatu emiten Rp 4.000, maka kamu tidak bisa membelinya dengan hanya selembar saham, tetapi wajib minimal 100 lembar alias 1 lot.
Adapun kripto, kamu bisa membelinya dengan besaran uang berapapun itu. Ingat, berapapun jumlah uangnya.
Kripto tidak diterbitkan atau diatur oleh pemerintah pusat. Tidak tunduk pada kebijakan moneter pemerintah.
Lantas apa yang faktor memengaruhi naik turunnya harga kripto?
Harga kripto terutama dipengaruhi oleh pasokannya, permintaan pasar, ketersediaan, persaingan antar kripto, dan sentimen investor. Kripto juga tidak diterbitkan oleh bank sentral atau didukung oleh pemerintah.
Alat kebijakan moneter, tingkat inflasi, dan pengukuran pertumbuhan ekonomi yang biasanya mempengaruhi nilai suatu mata uang tidak berlaku untuk kripto. Kripto lebih berperan sebagai komoditas yang digunakan untuk menyimpan nilai.
Berikut ini penjelasan lengkap mengenai faktor penyebab yang memengaruhi naik turunnya harga kripto.
Pasokan bitcoin dan permintaan pasar
Kita ambil contoh bitcoin. Dengan pasokan bitcoin sekarang, lalu terjadi permintaan pasar yang tinggi, artinya banyak yang membeli bitcoin, maka bisa berakibat berkurangnya pasokan kripto. Dampaknya, harga bitcoin menjadi naik.
Adapun dengan pasokan yang ada sekarang, lalu terjadi permintaan pasar rendah, yang artinya banyak orang yang menjual bitcoin, maka harga bitcoin pun menjadi turun. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi dasar tentang supply and demand.
Persaingan Antar Kripto
Ratusan aset kripto bersaing untuk mendapatkan investasi. Pada tahun 2023, bitcoin mendominasi perdagangan di pasar mata uang kripto. Namun dominasinya telah berkurang seiring berjalannya waktu.
Pada tahun 2017, bitcoin menyumbang lebih dari 80% dari keseluruhan kapitalisasi pasar di pasar mata uang kripto. Pada tahun 2023, pangsa tersebut turun menjadi kurang dari 50%.
Alasan utamanya adalah meningkatnya kesadaran dan kemampuan terhadap koin alternatif (alt coin). Misalnya, Ether telah muncul sebagai pesaing tangguh bitcoin karena booming keuangan terdesentralisasi (DeFi).
Investor yang melihat potensinya dalam menciptakan kembali infrastruktur keuangan modern telah berinvestasi dalam ether (ETH), mata uang kripto yang digunakan sebagai "gas" untuk transaksi di jaringannya. Ethereum menyumbang sekitar 20 persen dari keseluruhan kapitalisasi pasar pasar mata uang kripto.
